Seribu Cerita untuk adik-Adikku

Bayangan itu masih kuat terekam di benak dan hati saya. Hari-hari yang panjang di tepi rel kereta api Gunung Sahari, Jakarta Pusat, rumah kontrakan kami yang mungil itu. Kalau Papa pergi rekaman atau show, kami bertiga hanya bersama mama. Tapi kalau Mama harus ke pasar dan membawa barang dagangan?

Saya ingat sekali. Waktu itu Rani baru berumur empat tahun, Eron dua tahun dan saya sendiri baru enam tahun. Biasanya kalau mama ke pasar, kami semua selalu ingin ikut. Tapi lama-lama saya merasa itu terlalu memberatkan mama. Apalagi sebelum ke Pasar atau sesudahnya biasanya mama membawa seprai untuk didagangkan pada teman-temannya.

“Bagaimana kalau Mama pergi sendiri saja dan Kakak yang menjaga adik-adik?”

Mama menatap saya penuh kasih. “Apa anak sulung Mama bisa menjaga adik-adik kecilnya yang tak henti bergerak?”

Waktu itu saya cuma mengangguk.

“Bagaimana caranya?” Tanya Mama lagi sambil berjongkok , lebih dekat dengan saya..

Saya berbisik ke kuping mama, “ Kakak sudah siapkan seribu cerita buat mereka….”

Mama tertawa. “Seribu?”

“Persiapan, kalau Mama pulangnya lama.”

“Memang ceritanya tentang apa?”

“Yang sepuluh sudah ada. Sisanya nanti langsung Kakak karang saja.”

Mama membelai rambut saya, lembut. “Wah, hebat! Terus kalau adiknya mau makan?”

“Ada nasi dan telur asin, nanti kakak suapi.”

“kalau mau pipis dan buang air besar?”

“Tidak apa. Kakak akan urus karena kakak sayang mereka.”

Mama mencium pipi saya, kemudian mencium adik-adik. “Mama tidak akan lama….”

Itulah kali pertama Mama meninggalkan kami hanya bertiga di rumah kecil tersebut. Perasaan Mama berat sekali. Mama juga berpesan banyak hal, jangan main api atau jangan main air, jangan keluar ke rel kereta api…belum lama ada orang yang tertabrak sampai mati.

Ternyata baru saja Mama pergi, adik-adik sudah ribut. Ada yang minta minum, minta makan. Tak lama mereka berantem, mau pipis, buang air besar, dan lain sebagainya. Entah bagaimana caranya saya mencoba mengatasi dengan meniru semua gaya mama supaya adik-adik diam. Bahkan saya kenakan sepatu tinggi Mama. Wah ternyata mereka makin berisik, terus menangis dan susah diatur!

Akhirnya, saya keluarkan jurus paling jitu: jurus seribu cerita!

Dalam cerita saya ada gayung terbang, si gudeq yang nakal, ikan goreng yang baik hati, lelaki yang menemukan benang perak, mesin tik yang bisa bunyi sendiri, presiden yang selalu mencinta, pena yang tak pernah sombong, cerita nabi-nabi yang kadang tertukar dan entah apa lagi….

Adik-adik senang mendengarkan. Mereka cekikikan, kadang larut dalam haru…

Tapi saya tak pasti apa mereka mengerti ya?

“Apakah cerita itu ada di buku?” Tanya mereka.

“Ada dan tidak, dek,” kata saya

“Hebat!” kata Rani sambil memamerkan gigi coklatnya..

Pada cerita ke 13, mereka mengantuk dan berpindah ke tempat tidur..

Saat Mama pulang, adik-adik sudah mandi, pipis, makan dan tidur, padahal masih siang.

“Jadi… berapa cerita, sayang?”

“Baru 13 dari 1000 cerita, Ma….”

Mama memeluk saya…, “Adakah cerita tentang seorang gadis kecil belum sekolah, yang suka menjaga adik-adiknya dan senang bercerita?”

Saya tersenyum. “Hmmm ada juga cerita tentang ibu yang hebat dan sangat menyayangi anak-anaknya. Pada suatu hari anak-anak itu membelikan ibunya istana…dan ibunya mengajak fakir miskin untuk ikut tinggal bersama mereka di sana….”

Mama tertawa. Saya juga. Adik-adik tersenyum dalam lelap.

Saya tak bisa lupa. Sejak itu dengan menggunakan tape recorder papa dan kaset kosong, hampir setiap hari Mama merekam suara saya dan adik-adik. Kami bercerita, bernyanyi, berpuisi…dan Mama tak henti menyemangati. Suatu hari akan ada banyak cerita baru yang lahir dari dirimu…. Dari dirimu…mungkin kau akan menuliskannya, Nak….

Comments are closed.